IKLAN

Sabtu, 26 Juli 2014

BINATANG BERANAK TERBANYAK

BINATANG BERANAK TERBANYAK
                Suara keras yang berasal dari dalam hutan ternyata merupakan suara sekelompok binatang yang tengah terlibat perdebatan sengit mengenai siapa diantara mereka yang bisa melahirkan jumlah anak terbanyak sekali melahirkan.
                Rubah berkata dengan nada sombong, “Aku baru melahirkan delapan bayi sekaligus! Coba kalahkan itu!”
                “Itu bukan apa-apa, “seekor tikus air berkata dengan suara terkekeh. “Aku baru saja melahirkan sepuluh bayi!”
                Seekor rubah melihat seekor singa betina yang duduk dengan tenang di dekatnya dan tersenyum mencemooh, “Berapa anak singa yang dapat kamu lahirkan dalam sekali waktu?”
                “Kali ini hanya satu, “jawabnya dengan bangga, “tapi anak itu seekor singa!”



                Apa yang Anda inginkan, kuantitas atau kualitas?. Sesuatu yang berkualitas seringkali hanya ditemukan dalam jumlah sedikit, tetapi efeknya sangat dahsyat. Belajar, belajar dan belajarlah lagi untuk meningkatkan kualitas diri Anda. Pada saatnya nanti, orang seperti Andalah yang paling banyak dicari.
                Karakter adalah bentuk kekuasaan. Ia menghasilkan teman, mendatangkan perlindungan, dan membuka jalan menuju kekayaan, kehormatan dan kebahagiaan. Jika Anda memahami hal ini, Anda tidak akan ragu lagi untuk menjadi pribadi yang berkarakter.


                

ANAK SINGA YANG TAK BISA MENGAUM

ANAK SINGA YANG TAK BISA MENGAUM
                Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerak-gerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan bangkitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu. Sang induk kambing lalu mengampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih saying. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, si bayi singa tidak mau barpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti kemana saja induk ambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu. Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, dan bermain bersama anak-anak kambing lainnya.
                Tingkah lakunya juga layaknya kambing. Bahkan anak singa yang mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing yaitu mengembik bukan mengaum! Ia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing-kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa.
                Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.
                “Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.
                Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain, bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari serigala.
                Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah, “Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya kamu bisa mengusir serigala yang jahat itu!”
                Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa.
                Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa di hadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya. Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya!
                Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, “Emmbeeek!”
                Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang-ancang untuk menyeruduk lagi.
                Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada di depannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing. Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental kambing itu!
                Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa adalah raja hutan?
                Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun.
                Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat.
                Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa.
                Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, “Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku takkan memangsa anak singa!
                Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan.
                “Jangan bunuh aku, ammpuun!”
                “Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!”
                Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, “Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!”
                Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.
                Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri.
                Lalu membandingkan dengan singa dewasa.
                Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, “Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!”
                “Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa.
                “Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”
                “Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” kata sang singa dewasa.
                Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan. Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu.
                Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, “Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!” Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.



                Seringkali kegagalan seseorang disebabkan karena dia tidak mampu mengenali dirinya sendiri. Ia berusaha mengukur segala sesuatu dari ukuran atau sudut pandang orang lain. Kenali diri Anda, kembangkan potensi besar yang sebenarnya sudah ada dalam diri Anda sendiri.
                Lingkungan memang membentuk siapa diri kita. Namun keistimewaan yang kita miliki terbentuk dari proses panjang kita dalam mengenali diri. Diri kita yang sebenarnya adalah hakekat diri itu sendiri, bukan karena lingkungan dan keadaan apapun. Selagi kita menjadi manusia, maka kemanusiaan itu melekat dalam diri, bukan dalam bentuk lain. Tunjukkanlah kemanusiaan itu.
               
               
               
                 
               
               
                  
               
                  


KATAK DAN BUNGA MAWAR

KATAK DAN BUNGA MAWAR
                Seekor katak mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disapkan. Katak bergegas pula menyiapkan pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.
                Setiap hari disiraminya bibit mawar itu dengan tekun dan dengan rajin dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang mengganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Sang katak sangat senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan mengganggu keindahan mawar-mawar miliknya.
                Sang katak bergumam dalam hati, “Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam ? tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka olehnya. Selalu saja ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah…, pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri pengganggu ini.”
                Lama kelamaan, katak tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disiram lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang mengganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya sebelum berkembang dengan sempurna,bunga itu pun meranggas, layu dan mati.




                Kita bisa mendapat lebih dari yang sudah kita punya sekarang, karena setiap orang memiliki kemampuan untuk menjadi lebih dari dirinya yang sekarang (Jim Rohn). Namun juga perlu disadari, ada kelebihan dan ada kekurangan. Kelola kekurangan Anda, fokuskan pada kelebihan. Jangan sampai kelebihan diri Anda terkubur olehnya. Akan tetapi bersiaplah juga menerima risiko. 

AYAM YANG BUTUH PENGAKUAN

AYAM YANG BUTUH PENGAKUAN
                “Kenapa sih,” kata seorang kaya pada pelayannya, “Orang-orang mengataiku pelit. Padahal semua orang kan tahu kalau aku wafat nanti, aku akan memberikan semua yang aku punya pada yayasan sosial dan panti asuhan?!”
                “Akan saya ceritakan kisah tentang ayam dan sapi,” jawab pelayannya.
                Seekor sapi begitu popular, sedangkan sang ayam tidak sama sekali. Hal ini sangat mengherankan sang ayam. “Orang-orang berkata begitu manis tentang kelemahlembutan dan matamu yang begitu memancarkan penderitaan,” kata ayam pada sapi. “Mereka mengira kamu begitu murah hati, karena tiap hari kamu memberi mereka krim dan susu. Tapi bagaimana dengan aku? Aku memberikan semua yang aku punya. Aku memberikan daging ayam. Aku memberikan bulu-buluku. Bahkan mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kaldu. Tidak ada yang seperti itu. Kenapa sih kok bisa begitu?”
                “Apakah anda tahu apa jawaban sang sapi?” kata pelayan.
                Sang sapi berkata, “Mungkin karena aku memberikannya sewaktu aku masih hidup.”



                Kekayaan yang kita miliki tidak sepenuhnya jerih payah kita sendiri. Tentunya banyak orang lain yang terlibat di dalamnya. Jadi, mengapa harus menunggu untuk melakukan kebaikan? Dengan apa yang kita miliki sekarang, kita telah mampu berbuat banyak.

                Nikmatilah hidupmu dengan melakukan hal-hal kecil, karena suatu saat nanti jika menoleh ke belakang, ternyata hal-hal kecil itu tidak kecil. (Robert Brault)

SEMUT YANG HEMAT

SEMUT YANG HEMAT
                Zaman dahulu hiduplah seorang raja yang dikenal sebagai penyayang binatang. Suatu hari ia bertemu dengan seekor semut yang nampak kesusahan karena seharian belum juga mendapatkan makanan.
                “Hai, semut, seberapa banyak makanan yang kau butuhkan dalam setahun?” tanya Baginda.
                “Hanya sepotong roti saja, Baginda,” jawab semut.
                “Ikutlah denganku, akan kucukupkan kebutuhan hidupmu setahun dengan sepotong roti.”
                Raja tersebut memasukkan semut tersebut ke dalam toples yang berisi sepotong roti dan kebutuhan semut yang diperkirakan cukup untuk satu tahun. Ia menutup rapat toplesnya dan menyisakan sedikit lubang udara saja. “Tahun depan aku akan menemuimu lagi, semut,” kata sang Baginda.
                Setelah setahun berjalan, Raja tersebut merasa heran karena sepotong roti yang ia sediakan untuk semut tidak dihabiskan.
                “Mengapa roti pemberianku yang hanya sepotong masih kau sisakan separuh? Katanya dalam setahun kau memerlukan sepotong roti. Mengapa tak kau habiskan?” tanya Baginda.
                “Betul, Baginda. Roti itu memang hamba sisakan separuh. Sebab hamba khawatir jangan-jangan Baginda lupa membuka tutup tabung ini. Kalau Baginda lupa membukanya, tentu saja hamba masih dapat makan roti setahun lagi. Tapi untunglah Baginda tidak lupa. Hamba senang sekali”, semut menjelaskan.
                Sang raja kagum mendengar penjelasan si semut yang hidup hemat. Hal tersebut menjadi contoh bagi rakyat manusia di kerajaannya. Sebagai tanda terimakasih karena telah mengajari manusia untuk hidup hemat, raja pun memberikan hadiah satu toples penuh dengan roti kepada sang semut.



                Apapun yang Anda lakukan, diam atau bergerak, dunia selalu menuju ke depan. Jika Anda cerdas, Anda pasti tidak mau tinggal diam atau melakukan tidakan-tindakan ceroboh. Berhematlah dan biasakanlah untuk membayangkan kemungkinan terburuk dalam rencana Anda. Apapun yang terjadi nantinya, Anda akan lebih siap menghadapinya.



                

BUAH ANGGUR MASAM YANG TAK DISUKAI RUBAH

BUAH ANGGUR MASAM YANG TAK DISUKAI RUBAH
                Seekor rubah suatu hari melihat sekumpulan buah anggur yang ranum bergelantungan dari pohon anggur di sepanjang cabangnya. Buah anggur itu terlihat begitu ranum, kelihatan sangat lezat dan berisi penuh, dan mulut sang Rubah menjadi terbuka serta meneteskan air liur saat menatap buah anggur yang bergelantungan.
                Oleh karena itu buah anggur itu tergantung pada dahan yang cukup tinggi, sang Rubah pun harus melompat untuk mencapainya. Saat pertama kali melompat untuk mengambil buah tersebut, sang Rubah tidak dapat mencapainya karena buah itu tergantung cukup tinggi. Kemudian sang Rubah mengambil ancang-ancang dan berlari sambil melompat, Tetapi kali ini sang Rubah masih juga tidak dapat mencapai buah anggur tersebut. Sang Rubah mencoba untuk melompat terus, tetapi semua usaha yang dilakukannya sia-sia belaka.
                Sekarang dia lalu duduk dan memandang buah anggur itu dengan rasa penasaran. “Betapa bodohnya saya,” katanya. “Untuk apa bersusah payah mencoba mengambil buah anggur yang kelihatannya masam dan tidak enak untuk dimakan.”
                Kemudian sang Rubah lalu berjalan pergi dengan perasaan yang sangat kesal.




                Jangan salahkan orang lain untuk kegagalan yang Anda temui. Jujurlah pada diri sendiri agar dapat dengan jernih mengetahui letak kekurangan Anda. Dengan demikian, dilain kesempatan Anda dapat memperbaikinya. Sebaliknya, Anda bisa saja menyalahkan orang lain atau situasi sebagai penyebab kegagalan Anda. Akan tetapi, Anda tidak akan memperoleh apa-apa selain kehilangan kepercayaan pada kemampuan Anda sendiri.

TIKUS YANG TAK PERNAH PUAS

TIKUS YANG TAK PERNAH PUAS
                Seekor tikus merasa hidupnya sangat tertekan karena takut pada kucing. Ia lalu menemui seorang penyihir sakti untuk meminta tolong.
                Penyihir memenuhi keinginannya dan mengubah si tikus menjadi seekor kucing. Namun setelah menjadi kucing, kini ia begitu ketakutan pada anjing.
                Kembali ia menemui penyihir sakti yang kemudian mengubahnya menjadi seekor anjing. Tak lama setelah menjadi anjing, sekarang ia merasa ketakutan pada singa.
                Sekali lagi penyihir sakti memenuhi keinginannya dan mengubahnya menjadi seekor singa. Apa yang terjadi? Kini ia sangat ketakutan pada pemburu.
                Ia mendatangi lagi si penyihir sakti meminta agar diubah menjadi pemburu. Kali ini si penyihir sakti menolak keinginan itu sambil berkata, “Selama kau masih berhati tikus, tak peduli bagaimanapun bentukmu, kau tetaplah seekor tikus yang pengecut.”



                Kita adalah apa yang ada di dalam hati kita. Bentuk luar, tingkah laku, dan lain-lain hanyalah tempelan yang dapat menyembunyikan “kita” yang sejati.