IKLAN

Rabu, 02 Januari 2013

SEGELAS SUSU


True Story :
Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan
dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa
beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.

Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah
berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang
wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan,
ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut
pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.
Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya,
"berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?"
Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun".
"Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan"
kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :" Dari
dalam hatiku aku berterima kasih pada anda."

Sekian belas tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang
sangat kritis. Paradokter dikota itu sudah tidak sanggup
menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter
spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.
Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan . Pada saat ia
mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas
pancaran aneh pada mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju
kamar si wanita tersebut.
Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia
langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali
ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk
menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan
perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh
kemenangan.. Wanita itu sembuh !!. Dr. Kelly meminta bagian keuangan
rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan
kepadanya untuk persetujuan.
Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar
tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.
Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa
ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil
seumur hidupnya.
Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan
ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan
tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi.
"Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu.." tertanda, DR Howard Kelly.
Air mata kebahagiaan membanjiri matanya.

MENUNDUKKAN KEPALA


Belajar menunduk adalah sebuah pelajaran yang sulit.
            Namun sangat berguna bagi kita untuk introspeksi diri.
           
- Anonymous -

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

        Menundukkan Kepala
           
            Seorang petinggi pemerintah.
            Demi meningkatkan pamor pribadinya ia datang mengunjungi seorang guru yang terkenal di daerah itu.

Namun malangnya.
Ketika ia hendak masuk ke pondok sang guru, kepalanya terbentur menabrak palang pintu yang memang begitu rendah.
Kepalanya mengucurkan butir darah dan ia nampak amat kesakitan sambil berteriak-teriak.

Sang guru setelah memperhatikan petinggi pemerintah tersebut,
lalu berseru; “Nampaknya engkau amat kesakitan! Saya pikir ini merupakan hadiah terbesar yang kamu peroleh hari ini. Selamat!!”

“Apa katamu?? Hadiah terbesar? Tidakkah engkau lihat bahwa darah sedang mengucur turun dari dahiku?”
Ujar sang petinggi pemerintah tersebut dengan nada suara yang membumbung tinggi.

“Benar!!!”
Jawab sang Guru. “Ketika engkau telah mencapai puncak bukit, engkau harus berusaha untuk turun lagi ke kaki gunung tersebut.”
Kata sang guru sambil memandang tamu agungnya.
Dan….engkau harus belajar menundukkan kepala agar dahimu tidak tersobek oleh palang pintu lagi.

            - dari milis -

Sukses untuk Anda

Corporate Learning Center

SI PAHIT LIDAH DAN SI MATA EMPAT


            Tidak ada gunanya menyombongkan diri. Sebab, sifat sombong dapat mencelakakan diri kita sendiri.
            Jadilah orang yang rendah diri walaupun memiliki kemampuan lebih dari orang lain.
           
- Anonymous -

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

        Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
           
            Zaman dahulu, di daerah Banding Agung, Sumatera Selatan, hiduplah dua jawara yang gagah perkasa.
            Mereka sangat dikenal oleh masyarakat Banding Agung dan disegani lawan-lawannya.
            Kedua pendekar itu memiliki julukan si Pahit Lidah dan si Mata Empat.
           
            Suatu hari, si Pahit Lidah datang menemui si Mata Empat.
            Ia berkata, ”Hai, Mata Empat, kudengar kau sangat sakti. Tapi, kurasa kesaktianmu tidaklah sebanding denganku.”
            Merasa diremehkan oleh si Pahit Lidah, si Mata Empat pun berkata, ”Apa maksudmu?” kau pikir sehebat apa dirimu?
            Untuk membuktikan siapa yang paling sakti diantara kita, ayo kita adu kesaktian!”
            “Baiklah, aku terima tantanganmu. Masing-masing dari kita nanti harus melungkup dibawah pohon bunga aren.
           
            Kemudian, bunga aren itu dipotong. Siapa yang bisa menghindar dari bunga aren tersebut, dialah yang menang,” jelas si Pahit Lidah menantang.
            Sesuai dengan namanya, si Mata Empat memiliki empat mata, yaitu dua di depan dan dua di belakang (kepalanya).
            Dengan gesit, si Pahit lidah memanjat pohon aren dan berhasil memotong bunganya.
            Sementara si Mata Empat menelungkupkan badannya di bawah rumpun pohon tersebut.
            Dibantu oleh kedua matanya yang terletak di belakang kepala, si Mata Empat pun berhasil menghindari bunga aren yang telah dipotong
            dari pohonnya oleh si Pahit Lidah. Selamatlah si Mata Empat.

            Kini, giliran si Mata Empat untuk memanjat pohon aren. Sedangkan, si Pahit Lidah menelungkupkan badannya dibawah rumpun pohon tersebut.
            Tidak kalah gesitnya si Mata Empat memanjat. Setelah sampai di atas, ia memotong bunga aren.
            Dengan cepat, bunga aren tersebut meluncur kebawah.
            Si Pahit Lidah yang tidak mengetahui bunga aren itu telah dipotong, hanya menelungkup tanpa menghindar.
            Akibatnya, tubuh si Pahit Lidah terkena hujaman bunga aren. Seketika itu juga ia tewas.

            Melihat kematian si Pahit Lidah, hati si Mata Empat menjadi puas. Kini, dialah yang paling sakti diantara jawara yang lain.
            Namun, di balik rasa puasnya, si Mata Empat masih merasa penasaran tentang nama si Pahit Lidah.

            “Dia pikir di itu hebat?”ucap Mata Empat sambil melihat kearah mayit Pahit Lidah.
            “Tapi, mengapa dia dipanggil si Pahit Lidah? Apakah lidahnya benar-benar pahit?” pikir si Mata Empat.

            Karena Penasaran, si Mata Empat pun menghampiri mayat si Pahit Lidah. Setelah itu, dibukalah mulut si Pahit Lidah.
            Setelah dilihat-lihat dengan teliti, ternyata lidah milik si Pahit Lidah tidak jauh berbeda dengan lidah miliknya.

            “Benarkah lidahnya pahit?” tanya si Mata Empat dalam hati sambil menempelkan telunjuknya ke lidah si pahit lidah.
            Kemudian, ia kecap jari telunjuknya yang telah terkena liur si Pahit Lidah itu kelidahnya.
            ”Memang terasa sangat pahit,” ujarnya kembali ke dalam hati.

            Akan tetapi, ia tidak mengetahui bahwa rasa pahit itu adalah racun yang berada di lidah si Pahit Lidah. Akibatnya, si Mata Empat pun tewas.
            Kini, tidak ada lagi jawara yang terkenal saat itu. Mereka tewas akibat kesombongannya sendiri.
            Mayat si Mata Empat dan si Pahit Lidah pun dimakamkan di tepi Danau Ranau.

            - Cerita Rakyat -

Sukses untuk Anda

Corporate Learning Center

INTI SEMUA KEBIJAKSANAAN





            Biarkan cinta Anda lebih kuat dari kebencian atau kemarahan.
            Pelajari kearifan dalam mencapai kesepakatan.
            Lebih baik bengkok sedikit daripada patah.
           
- H.G. Wells -

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

        Inti Semua Kebijaksanaan
           
            Ada seorang raja yang amat baik dan dicintai rakyatnya. Kesejahteraan dan keamanan kerajaan itu terjamin baik.
            Dia juga dihormati raja-raja lain karena mampu menjalin persahabatan dengan mereka dan tidak pernah menyerang
            atau berperang dengan kerajaan tetangga. Raja itu juga mencintai kebijaksanaan.

            Suatu ketika dia memerintahkan untuk mengumpulkan semua guru kebijaksanaan dari negrinya.
            Dia juga mengundang para guru kebijaksanaan dari kerajaan-kerajaan sekitarnya.
            Para guru yang telah dikumpulkan itu diberi tugas untuk menuliskan semua kebijaksanaan yang ada di dunia ini.
            Para guru kebijaksanaan ini bekerja keras selama bertahu-tahun untuk melaksanakan perintah raja tersebut.
           
            Puluhan tahun telah berlalu. Ribuan buku tebal telah dihasilkan oleh para guru tersebut. Raja sudah semakin lanjut usia.
            Sebelum menyerahkan takhta kepada anaknya, raja memanggil para guru kebijaksanaan itu.

            ”Aku tidak mungkin membaca seluruh buku yang telah kalian tulis, ringkaslah inti kebijaksanaan yang telah kalian tulis,” perintah raja kepada mereka.
           
            Beberapa tahun demikian para guru kebijaksanaan ini menghasilkan buku yang berupa ringkasan seluruh kebijaksanaan yang mereka geluti
            dan telah mereka tulis selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Meskipun sudah diringkas, buku yang dihasilkan masih sangat tebal.

            ”Buku ini masih terlalu tebal. Aku tidak mungkin membacanya sampai aku meninggal dunia.
            Peraslah lagi untuk menemukan inti pokok kebijaksanaan,” perintah sang raja.

            Beberapa guru kebijaksanaan telah meninggal dunia sebelum sempat menyelesaikan tugas dari raja.
            Para guru yang masih hidup terus-menerus melaksanakan tugas tersebut.
            Pemimpin para guru kebijaksanaan itu berusaha memeras inti pokok kebijaksanaan.

            Namun, ada kabar bahwa raja telah menghadapi sakratul maut. Para guru kebijaksanaan berkumpul di sekitar raja.
            Pemimpin para guru kebijaksanaan itu membisikkan kata-kata ini ketelinga sang raja :
            ”Manusia lahir, hidup, menderita lalu mati. Semua hilang. Satu-satunya yang tinggal dan masih bertahan adalah cinta.”

            - Secangkir TEH -

Sukses untuk Anda

Corporate Learning Center